TIMES TALIABU, MAJALENGKA – Rencana pembangunan Sarana Olahraga Baribis (SOR Baribis) di Kabupaten Majalengka tidak sekadar menghadirkan stadion baru, tetapi menargetkan standar nasional hingga internasional.
Kementerian PU menegaskan bahwa desain stadion Baribis akan mengacu pada pedoman resmi PSSI dan FIFA Guidebook, sebagai fondasi utama pembangunan infrastruktur olahraga modern di daerah.
Hal itu terungkap saat tim Kementerian PU bersama Bupati Majalengka H. Eman Suherman melakukan survei lapangan ke lokasi rencana pembangunan SOR Baribis di Kecamatan Cigasong, Majalengka, Jawa Barat.
Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari tahapan perencanaan awal sebelum proyek masuk ke fase fisik.
Kepala Subdirektorat Perencanaan Teknis Direktorat Infrastruktur Dukungan Perekonomian, Peribadatan, Kesehatan, Olahraga, dan Sosial Budaya Kementerian PU, Feriko, menyampaikan bahwa pembangunan stadion tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Seluruh tahapan harus memenuhi readiness criteria, baik teknis maupun non-teknis.
"Desain stadion yang akan dibangun nanti kita upayakan mengacu pada aturan yang ada di dalam PSSI maupun FIFA Guidebook,” ujar Feriko kepada TIMES Indonesia, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, standar tersebut mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari ukuran lapangan, lebar dan panjang stadion, kapasitas tribun penonton, hingga sistem keselamatan seperti jalur evakuasi, akses keluar-masuk lapangan, serta konektivitas kawasan stadion.
"Semua harus direncanakan sejak awal, termasuk akses masuk kawasan, akses keluar kawasan, dan aspek keselamatan penonton. Itu menjadi perhatian utama dalam pedoman PSSI dan FIFA," jelasnya.
Feriko menambahkan, desain awal stadion yang disusun pada tahun 2021 akan direview secara menyeluruh. Peninjauan ulang dilakukan untuk memastikan kesesuaian desain dengan kondisi lapangan terkini, kebutuhan olahraga Majalengka, serta efisiensi biaya pembangunan dan operasional jangka panjang.
"Kapasitas stadion sangat berpengaruh terhadap biaya pembangunan dan pemeliharaan. Semakin besar kapasitasnya, semakin besar pula biaya operasionalnya. Karena itu kami akan mendesain stadion yang efektif, sesuai kelas stadion di Majalengka," katanya.
Secara teknis, luas minimum stadion diperkirakan sekitar 5.000 meter persegi, belum termasuk kawasan pendukung seperti lahan parkir, perimeter luar, dan infrastruktur penunjang lainnya. Namun, luasan akhir kawasan akan ditentukan setelah desain final dan kapasitas stadion disepakati.
"Ini masih tahap awal. Kami fokus menyelesaikan perencanaan terlebih dahulu. Targetnya, proses perencanaan bisa dirampungkan sebelum masuk ke tahapan fisik pembangunan," ungkap Feriko.
Selain standar teknis, Kementerian PU juga menekankan pentingnya keberlanjutan pengelolaan stadion. Stadion yang dibangun harus memiliki rencana bisnis yang jelas agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Stadion bukan hanya untuk pertandingan. Harus ada rencana pengelolaan dan pemanfaatan, baik untuk kegiatan olahraga maupun non-olahraga, agar stadion bisa menghidupi dirinya sendiri," ujarnya.
SOR Baribis direncanakan menjadi pusat kegiatan olahraga masyarakat, wadah pembinaan atlet lokal, serta markas klub sepak bola Majalengka. Dengan mengacu pada pedoman PSSI dan FIFA Guidebook, stadion ini diharapkan mampu menjadi simbol baru kemajuan olahraga daerah, sekaligus meningkatkan prestasi atlet di tingkat regional hingga nasional.
Pembangunan SOR Baribis bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan olahraga Majalengka, modern, aman, dan berkelas internasional. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: SOR Baribis Majalengka Dirancang Mengacu Pedoman PSSI dan FIFA
| Pewarta | : Jaja Sumarja |
| Editor | : Ronny Wicaksono |