Hilang saat Melaut, Nelayan Taliabu Akhirnya Ditemukan Meninggal
Pada hari keempat pencarian atau Kamis pagi, tim gabungan menemukan korban dalam keadaan mengambang di Perairan Tanjung Laleo.
TALIABU – Setelah empat hari pencarian intensif, Tim SAR gabungan berhasil menemukan nelayan bernama La Radi (53) dalam kondisi meninggal dunia di Perairan Tanjung Laleo, Desa Lede, Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu, Kamis (25/6/2026) sekitar pukul 10.30 WIT.
Korban yang merupakan warga Desa Lede ini sebelumnya dilaporkan hilang sejak Senin (22/6/2026) saat melaut mencari gurita di seputaran Pulau Tabala.
Berdasarkan keterangan istri korban, Adila (56), suaminya berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 WIT dengan menggunakan perahu jenis bodi katinting yang dilengkapi satu unit mesin Honda berkekuatan 5.5 PK.
"Biasanya suami saya pulang sekitar pukul 14.00 WIT. Karena sampai pukul 15.00 WIT tidak kunjung pulang, saya langsung melaporkan ke Polsek Siap Lede dan Pemerintah Desa, serta meminta bantuan nelayan lain untuk mencari," ujar Adila
Upaya pencarian yang melibatkan tim SAR yakni Basarnas Banggai Laut, Polsek Lede, BPBD Taliabu, Bhabinkamtibmas, Bhabinsa, dan masyarakat setempat langsung dilakukan pada hari pertama.
Pada pukul 22.00 WIT, tim berhasil menemukan perahu korban terapung sekitar 200 meter dari tepi Pantai Laleo, namun nahas, La Radi tidak berada di dalam perahu tersebut.
Pencarian hari kedua dan ketiga terus dilakukan, namun terkendala cuaca buruk yang memaksa tim menghentikan operasi pada sore hari.
Akhirnya, pada hari keempat pencarian, Kamis pagi, tim gabungan menemukan korban dalam keadaan mengambang di Perairan Tanjung Laleo.
Jenazah La Radi kemudian di bawa ke rumah duka pada pukul 10.54 WIT dan direncanakan akan dimakamkan setelah shalat Zuhur.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi nelayan tradisional di perairan Pulau Taliabu.
Aktivitas melaut secara perorangan dengan peralatan sederhana, tanpa alat keselamatan memadai, serta minimnya sistem komunikasi darurat menjadi faktor kerawanan utama.
Cuaca yang tidak menentu, gelombang laut, dan arus perairan yang dinamis turut meningkatkan potensi kecelakaan laut di kawasan tangkap tradisional ini.
Pemerintah daerah melalui Basarnas dan BPBD diimbau meningkatkan sosialisasi keselamatan melaut, mewajibkan penggunaan alat pelampung, serta menyediakan informasi prakiraan cuaca dan gelombang secara berkala kepada nelayan.
Penguatan koordinasi antara pemerintah desa, BPBD, TNI-Polri, dan instansi terkait dalam membangun sistem pelaporan cepat juga menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kondisi darurat di laut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.